Olahraga Mendaki Gunung

Alm.Pak Soerono yang dulu menjabat sebagai Menko Polkam, adalah seorang pejabat yang sangat memperhatikan kegiatan alam terbuka selain Bapak Emil Salim, pernah mengemukakan pendapat beliau, bahwa pendaki gunung, seperti halnya penjelajah hutan dan pengarung lautan , pada hakikatnya adalah penyalur dan penampung hasrat kaum muda untuk lebih mengenal tanah airnya melalui tata alamnya.

Motif seperti  dikemukakan Beliau, itu perlu ditanamkan dalam diri dan jiwa setiap kaum muda yang cinta alam terbuka dan kelestariannya. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit remaja yang mendaki gunung karena latah,terbawa musim, sekedar nampang dan gengsi. Dengan demikian pada saat pendakian ada yang benar – benar menghayati manfaat usahanya itu, namun tidak sedikit yang hanyabersenang – senang tanpa kesanmendalam akan kebesaran dan keagungan Tuhan, Mahapencipta serta keindahan tanah air yang dilihatnya sepanjang rute perjalanan.

Mendaki gunung memang olahraga positif dan menyehatkan para pelakunya. Olahraga sehat ini penuh tantangan, tidak mudah, penuh bahaya, dan mengandung banyak unsure petualangan. Mungkin karena itulah justru menyebabkan daya tarik yang kuat bagi kaum muda untuk mencoba menghadapi tantangan, menyerempet bahaya, dan petualangan yang baru. Mereka yang sadar akan bahaya yang harus di hadapi, segera menyiapkan diri dengan mendalami ketrampilan teknis di gunung  serta melatih fisik dan mentalnya, agar tahan uji di segala situasi.

Hal – Hal yang Harus di Perhatikan

Kondisi fisik yang baik adalah syarat utama untuk para pendaki. Jangan memaksakan diri jika kondisi badan sedang menurun,karena tidak jarang berakibat fatal.

Kondisi mental yang baik adalah syarat kedua, karena para pendaki harus sadar bahwa mereka harus siap menghadapikekerasan alam, buruknya cuaca, beratnya medan, Dll.

Mengetahui pengetahuan dan menerapkan secara praktis ketrampilan teknis di gunung, seperti : navigasi darat, survival, P3k,tali – temali, Dll.

Perencanaan yang baik dan terperinci (Rute,estimasi waktu),adalah syarat pokok kedua  yang perlu ditempuh para pendaki. Perizinan,dimulai dari izin orang tua, sekolah/perkumpulan, instansi.

Perencanaan perlengkapan sesuai medan yang ditempuh, meliputi :

–        Ransel/Carrrier.

–        Pakaian, jaket, pullover,penutup kepala, Dll.

–        Kantung tidur/Sleeping Bag (SB).

–        Makanan yang mudah dimasak (Ransum TNI, dendeng, rendang, abon).

–        Kompor/pembuat api.

–        Kotak P3k berikut obat – obatanya.

–        Lampu penerangan dengan baterai dan lamu cadanganya.

–        Tenda ringan lengkap dengan atap ganda (bila perlu).

–        Sepatu khusus mendaki, jangan memakai sepatu olahtaga yang ber sol karet, karena licin dan mudah tembus air.

KODE ETIK PECINTA ALAM

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat Indonesia, sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa Pecinta Alam adalah sebagian dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah Yang Maha Kuasa

Sesuai dengan hakekat diatas, kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah air.

4. Menghormati Tata Kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara Pecinta Alam sesuai dengan Azas Pecinta Alam.

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.

Disahkan dalam :

Forum Gladian Nasional ke-4

Ujung Pandang, 1974

Ada baiknya jika sebelum memulai pendakian tinggalkanlah informasi pada seorang yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab, sambil menerima informasi tentang segala sesuatu mengenai gunung yang akan didaki. Sesudah bertukar informasi, berangkatlah ke kaki gunung dan sebelum memasuki agar semua anggota memanjatkan doa dan memohon perlindungan-Nya, agar pendakian tidak mengalami kesulitan dan mara bahaya.

Mendaki gunung di pulau jawa tidaklah sulit, biasanya sudah ada jalan setapak menuju puncak, yang dibuat oleh para petugas hutan dan pengawas pengawas kegiatan gunung berapi, meskipun dikacaukan oleh jalan para pencari kayu dan hasil hutan dari penduduk sekitar gunung.

Pada saat melakukan pendakian, baru akan dirasakan bahwa ketabahan, keuletan, dan daya tahan sangat diperlukan. Betapa tidak, karena jalan mendaki seperti tak ada akhirnya, sementara beban ransel dan sepatu terasa semakin berat saja. Yang penting kita terus melangkah, tak perlu tergesa – gesa dan tidak perlu memaksakan diri. Beristirahat dilakukan sesuai target, tidak seenaknya mengatur istirahat. Lagi pula, lamanya istirahat disesuaikan dengan keperluan, jika terlalu lama akan mengakibatkan malas meneruskan. Penghayatan alam sekitar pada saat kita melangkah akan mengurangi kepenatan. Coba kita perhatikan keheningan dan kebeningan suasana, kesejukan udara yang penuh dengan aroma hutan terasa segar dihirup, hamparan perdu hijau selingi aliran sungai kecil atau air terjun jernih, dan sebagainya. Kita ingat – ingat untuk pengenalan medan waktu kembali dari puncak menuju pulang.

Dalam mengikuti rute perjalanan senantiasa perhatikan tanda jejak yang dibuat oleh tim pendahulu, terutama bila diketahui jalan setapak terputus dan seolah – olah tidak ada lanjutanya. Periksa sekitar tempat itu oleh beberapa anggota kelompok sambil berpegang pada arah kompas, dan laporkan kepada pemimpin kelompok tentang kemungkinan adanya penemuan jalan terusan. Dan setelah perhitungan matang, para pendaki dapat meneruskan perjalananya kembali. Perjalanan malam hendaknya tidak dilakukan, lebih – lebih terhadap medan yang masih asing. Sebaiknya perjalanan dihentikan, dirikan tenda, bivak atau tempat istirahat. Berjalan malam resikonya besar, tidak hanya dapat tersesat, tetapi kemingkinan lain yang lebih buruk dapat saja terjadi, seperti terperosok ke jurang , dan sebagainya. Untuk apa memaksakan diri kalau keselamatan terancam.

Dalam mendaki gunung, semakin ke atas, semakin dingin udara, demikian pula makin berkurang tekanan oksigen. Hal ini sering mengakibatkan panas tubuh menurun, yang sering disebut hipotermia dan kadar gula dalam darah berkurang, yang sering disebut hipoglukoemia, sehingag fungsi otak terganggu. Jika kadar gula dalam darah berkurang, menyebabkan cadangan gula dalam otot/glikogen intramuskuler berkurang pula, mengakibatkan kelelahan yang sangat dan  akhirnya koleps. Mencegah tidak sampai pingsan, adala dengan cara cepat – cepat berhenti, bila dirasakan terlalu lelah dan tidak teratasi. sebaiknya mencari tempat tempat yang teduh dan terlindung dari angin. Segera beri minuman panas dan manis, dan jangan sekali – kali meminum minuman yang mengandung alkohol, karena dapat mengembangkan pembuluuh darah dengan cepat, dan justru akan membantu hilangnya panas tubuh dengan cepat, yang berarti akan membuat keadaan bertambah buruk.

Pada ketinggian 4000 Mdpl (Meter diatas permukaan laut) ke atas, para pendaki yang daya tahanya kurang, dapat terserang  “penyakit gunung” (Mountain Sickness) yang gejalanya berupa : mengantuk, pusing, gangguan pencernaan, keletihan mentak, dan (aneh!) rasa bahagia. Keadaan ini tidak tertahankan oleh penderita, dan jalan satu – satunya untuk mengatasi keadaan ini, adalah membawa penderita turun kembali ke tempat yang lebih rendah. Penyebab penyakit gunung tidak lain karena zat asam pada ketinggian itu sudah berkurang, yang biasa disebut hipoksia. Bila zat asam yang dihirup sudah cukup banyak, penderita akan pulih dan gejala tadi akan segera. Mereka yang mental dan fisiknya cukup sehat, gangguan penyakit gunung tetap ada, tetapi tidak sampai berpengaruh pada semangatnya yang besar untuk menaklukkan puncak gunung dan kembali dengan selamat.

   Perlu diketahui bahwa beberapa gunung berapi berbahaya, karena kawahnya mengeluarkan gas beracun. Hal ini ditandai dengan tidak adanya tumbuhan yang hidup di sekitar daerah itu, dan biasanya berupa daerah berpasir dan berkerikil  yang berwarna kehitam -hitaman. Berada di puncak gunung seperti itu berhati – hati, sebaiknya pendaki mencapai puncak pada pagi hari, dan turun kembali sebelum jam sepuluh. Gas belerang yang tidak berbahaya, bagi yang tidak kuat sudah dapat menyebabkan mual dan ingin mutah, apalagi gas – gas yang mengandung racun.

Galih Ramadhan/12 A

PECINTA ALAM ITU :

Tidak mengambil apapun, kecuali mengambil foto… Tidak meninggalkan apapun, kecuali meninggalkan jejak… Tidak membunuh apapun, kecuali membunuh waktu… Tidak mengalahkan siapapun, kecuali mengalahkan ego…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s