Sejarah Singkat Sholat Jum’at

Selama ini banyak diantara kita yang belum tahu mengenai sejarah sholat Jum’at. Sholat Jum’at yang merupakan ibadah wajib khususnya bagi kaum pria, sampai saat ini diketahui memiliki dua perbedaan mendasar yaitu dengan dua adzan atau satu adzan saja. Disamping itu banyak diantara kita yang belum tahu apa yang melatar belakangi ritus sholat juma’at itu. Perbedan itu juga yang kadangkala sedikit mengganggu ukhuwah. Apa dan bagaimana serta makna tersirat dari ritual solat jum’at dimana juga ada kaitanya dengan ibada lain, semisal sholat sunat akan coba diuraikan dalam uraian berikut.

Salah satu rukun khutbah Jum’at adalah membaca salam. Setelah salam lalu khatib duduk. Hal itu sebetulnya adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktek Nabi. Pada waktu itu, Nabi tinggal disebelah masjid. Rumahnya, yang sekarang menjadi beliau, terletak satu tembok dengan masjid. Kalau diasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk sholat Jum’at, beliau keluar rumah dan mengucapkan salam. Kemudian Nabi duduk sambil mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir.

Tempat duduknya dibuat lebih tinggi, yang kemudian menjadi rujukan desain mimbar Jum’at. Oleh karena itu ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap mimbar Jum’at seperti yang ada sekarang ini adalah bid’ah, karena tidak sesuai dengan desain Nabi. Yang betul seperti apa? Kalau kita pergi ke masjid Tanah Abang, disana ada contoh mimbar Jum’at seperti jaman Nabi.

Setelah mengucapkan salam, kemudian dikumandangkan azdan. Ini merupakan tanda bahwa seolah-olah diumumkan bahwa sholat Jum’at akan segera dimulai, karena Nabi telah hadir. Pada jaman Utsman Bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota yang sangat besar, adzan sekali dirasa tidak cukup. Maka Utsman memerintahkan agar adzan juga dilakukan diluar masjid untuk mengumandangkan bahwa sholat Jum’at sudah dimulai. Maka tumbuhlah adzan dua kali.

Ini sama saja dengan perkembangan sholat Tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah, karena pada prinsipnya sholat sunat memang dilakukan dirumah. Oleh karena itu sekarang masih ada orang yang setelah sholat wajib, lalu ketika sholat sunat dia pindah tempat. Itu sebetulnya tiruan simbolik pindah ke rumah. Jadi begitulah banyak, aspek-aspek rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal usulnya. Padahal sebetulnya banyak yang menyangkut masalah praktis seperti dipraktekkan Nabi.

Ketika khutbah, Nabi selalu menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam adalah komunitas militer. Setiap orang Islam adalah seorang militer. Maka orang yang murtad kala itu menjadi disersi dan hukumnya adalah dibunuh. Padahal menurut Al Qur’an, yang menghukum orang murtad adalah Allah swt sendiri di akhirat nanti. Tapi karena waktu itu murtad mempunyai implikasi disersi (meninggalkan barisan perjuangan) maka hukumnya dibunuh. Dalam konteks itulah, ketika menjadi khatib Jum’at Nabi selalu tampil gagah sekali diatas mimbar sambil menyandarkan pedang atau tombak, pada bahu beliau. Praktek itu sekarang masih ada di masjid-masjid lama, hanya saja pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat.

Setelah itu, seperti kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaiakan ialah pesan taqwa. Karena itu khatib selalu mengutip firman Allah yang berkenaan dengan taqwa yaitu :

ﯿﺂﺍ ﻠﻨ ﯿﻦ ﺍ ﻤﻨﻮﺍ ﺍﺘﻖ ﺍﻠﻠﻪ ﺤﻖ ﺘﻘﺎﯿﻪ ﻮﻻ ﺘﻤﻮﺘﻦ ﺍﻻ ﻮﺍﻨﺘﻢ ﻤﺴﻠﻤﻮﻦ
“wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sampai kamu mati kecuali sebagai orang-orang yang muslim”.

Karena asas hidup yang benar adalah taqwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridlo-Nya. Asas hidup mana pun, selain taqwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridlo-Nya, adalah tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada taqwa dan keinginan mencapai ridlo-Nya, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing kea rah budi pekerti luhur atau al-akhlaq al-karimah.

Melalui taqwa, kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup. Inti taqwa adalah kesadaran yang sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Taqwa ialah kalau kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa Allah beserta kita, Allah menyertai kita, Allah mengawasi kita dan Allah memperhitungkan peruatan kita.
Allah berfirman : QS 57:4

ﻮﻫﻮﻤﻌﮑﻢ ﺍﯿﻦ ﻤﺎ ﻜﻨﺘﻢ ﻮﺍﻠﻠﻪ ﺒﻤﺎ ﺘﻌﻤﻠﻮﻦ ﺒﺼﯿﺮ

“Dan Dia bersamamu di manapun kamu berada. Dan Allah maha mengetahui tentang segala sesuatu yang engkau kerjakan”

Inilah pengawasan melekat (Waskat) yang sebenarnya. Pengawasan yang built in dalam diri kita melalui iman. Dengan demikian, taqwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus dan tanpa pamrih. Dengan taqwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang, kita meninggalkan perbuatan jahat bukan karena pengawasan orang. Tetapi karena dinamika yang tumbuh dalam diri kita sebagi akibat dari taqwa.

Akhirnya, khutbah Jum’at seperti sekarang juga berkat warisan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang selalu mengakhiri dengan kutipan ayat Al Qur’an QS Al An Nahl ayat 90 :

ﺍﻦﺍﻠﻠﻪ ﯿﺄﻤﺮ ﺒﺎﻠﻌﺪﻞ ﻮﺍﻺﺤﺴﺎﻦ ﻮﺇﻴﺘﺎﺀﺬﻱﺍﻠﻘﺮﺒﻰ ﻮﻴﻨﻬﺎﻋﻦﺍﻠﻔﺤﺸﺎﻋﻮﺍﻠﻤﻨﮑﺮﻴﻌﻈﮑﻢ ﻠﻌﻠﮑﻢ ﺘﺬﻜﺮﻮﻦ

“sesunggahnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari pebuatan keji, kemungkarandan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”

Ada riwayat yang menjelaskan mengapa khutbah harus di akhiri ayat Al Qur’an itu. Dulu, seratus tahun setelah Nabi wafat, ada gejala khutbah dijadikan forum politik untuk saling menghujat dan melaknat lawan-lawan politiknya. Kalau khatibnya orang Bani Umayah, maka khutbahnya di akhiri dengan kutukan kepada para pengikut Ali yang disebut Syi’ah (Partai Ali). Sebaliknya kalau khatibnya dari kalangan pendukung Ali, yang dikutuk Bani Umayah. Umar Bin Abdul Aziz yang bijak mengatakan, hal seperti itu hendaknya jangan diteruskan, makanya disuruh mengakhiri khutbah-khutbah dengan ayat 90 surat An Nahl diatas.

Demikian semoga menambah wawasan tentang khazanah Islam yang mungkin sebagian dari kita belum mengetahuinya. Semoga penulis khususnya dan pembaca umunya dapat mengambil pelajaran dari uraian singkat diatas. Uraian sejarah ini merupakan jasa Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Tulisan diatas merupakan saduran dari kutbah-khutbah beliau yang terangkum dalam buku : Pesan-pesan Takwa Nurcholish Madjid : Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina, diterbitkan oleh Yayasan Paramadina. Semoga menjadi amal sholeh beliau kelak. Amin. Wallohua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s