Yuk Memaksakan Diri

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?

Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?

Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?

Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?

Jawablah: TIDAK. Atau: YA.

Dan kedua jawaban itu bisa sama-sama benar. Lha, maksudnya gimana? 

Sabar, begini lho maksud saya.

Jika engkau menjawab TIDAK, artinya engkau telah menggunakan akal sehatmu dengan benar. Engkau bersandar pada pepatah “Engkau harus kuat dulu agar bisa menolong yang lemah, engkau harus menyelamatkan dirimu terlebih dahulu sebelum menyelamatkan yang lain.” Pepatah ini mengandung arti, tak mungkin engkau bisa menolong orang sakit jika engkau sendiri sakit. Engkau tak bisa menolong orang miskin kalau engkau sendiri tergolong orang miskin. Jeruk tak bisa makan jeruk. Itulah yang saya maksudkan sebagai akal sehat. Lihat petunjuk untuk memakai zat asam di pesawat, jangan menolong orang lain walaupun anakmu sendiri sebelum engkau memasang zat asam untukmu duluan.

Lha, terus mengapa yang menjawab YA juga benar?

Karena kebenaran jawabanmu tergantung keyakinanmu. Tak ada kebenaran tunggal di dunia nyata, seperti kebenaran eksak di dunia akademis. Kalo engkau yakin TIDAK itu artinya betul, menurutmu. Begitu juga jika jawabanmu adalah YA. Itu juga betul, menurutmu.

Tapi jawaban yang berbeda itu akan menghasilkan akibat yang berbeda pula.

Hidup di dunia realitas ini, tak semua berjalan dengan hitungan matematis, 1+1 tidak selalu sama dengan 2. Dan mereka yang memilih ya alias memilih memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan akal sehat, tentulah wajar jika dituduh tidak memiliki akal sehat alias tidak masuk akal.

Tapi sebentar dulu, menurut Anda: apa sih pengertian tidak masuk akal?

Ada yang mau jawab? Kok sepi? Yang di depan, belakang? Ya.. Anda yang sedang pegang Blackberry. Apa artinya tidak masuk akal? (penulis ngaco, mana bisa tulisan dibikin interaktif? Sok tahu! Heheheh🙂

Tidak masuk akal itu ada dua pengertiannya. Ini menurut saya lho, lha tadi saya tanya menurut Anda, Anda diam saja. Hehehe, makin parah ngaconya!

Yang pertama, tidak masuk akal berarti memang faktanya salah.

Alias logika berfikirnya salah. Misalnya: meja kayu adalah meja yang terbuat dari roti. Ya jelas salah. Yang betul atau yang masuk akal adalah meja yang terbuat dari besi, eh kayu. Ya.. Kayu. Itu yang masuk akal.

Yang kedua, tidak masuk akal juga bisa berarti akal kita tidak bisa menjangkaunya alias belum mampu memahaminya.

Misalnya: dulu membayangkan pendaratan manusia di bulan dianggap gak masuk akal. Karena belum pernah ada yang melakukannya. Columbus yang berniat memutari bumi dianggap nggak masuk akal karena pengertian umum orang-orang pada jaman itu: bumi itu datar. Nanti di ujung bumi, Columbus akan nyemplung dan hilang entah kemana. Di dunia kedokteran, santet dianggap nggak logis. Bagaimana mungkin bisa ada sendok garpu masuk perut tanpa melukai tubuh korbannya? Lewat mana masuknya? Dengan teknologi apa?

Nah, saat waktu berlalu: kita tahu bahwa hal-hal aneh ini bisa terjadi, nyata terjadi meskipun secara logika mungkin kita tetap tak bisa mempercayainya.

Nah, saat akal tak menjangkau, kita mengenal yang disebut sebagai iman. Makanya, ada ungkapan sami’na wa atho’na dalam Islam, yang artinya: saya dengarkan dan taati. Ini khas dunia pesantren, yang biasanya sering diartikan: seorang kyai itu dianggap mutlak perintahnya, santri-santri harus sami’na wa atho’na. Lebih parah lagi, ungkapan ini dianggap anti demokrasi, anti kritik, taqlid buta, tidak menjunjung azas persamaan dan egalitarianisme.

Padahal dalam hidup kita, pemaknaan sami’na wa atho’na ini begitu luasnya. Coba kita tengok saat kita bayi dan ibu melatih kita untuk belajar jalan. Apakah Ibu menjelaskan dulu manfaat-manfaat belajar jalan kepadamu? Apakah Ibu meminta persetujuanmu untuk melatihmu belajar jalan? Apakah engkau protes? Tidak. Tak ada persetujuan, engkau juga tak protes. Semua berjalan alamiah sampai saatnya nanti engkau – setelah belajar, setelah Iqra’ – paham manfaatnya bisa berjalan dengan kedua kaki.

Lalu saat menginjak Taman Kanak-kanak dan mulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Apakah guru meminta persetujuanmu untuk mengajarkan ilmu itu? Apakah engkau protes? Tidak. Saat engkau menguasai ilmu itu, dengan berjalannya waktu engkau akan paham manfaatnya.

Kita telah menerapkan sami’na wa atho’na saat masih kecil, tapi menolak menerapkannya saat dewasa karena alasan demokrasi dan sebagainya. Anak-anak muda seringkali mengedepankan logikanya, sehingga babak bundas dihajar realitas. Pemerintah, pengusaha hanya menggunakan logika semata-mata untuk sukses, akhirnya kecapekan untuk hanya ketemu jalan buntu.

Saat iman ditinggalkan, saat kita tak menyediakan diri untuk ‘diatur’ oleh yang Maha Mengatur malah makin menjauh dari-Nya, seringkali kita tak berdaya di hadapan masalah-masalah duniawi yang bertumpuk-tumpuk menenggelamkan kita pada jurang keputusasaan.

Untuk belajar sesuatu yang saya tak paham sama sekali, saya menggunakan metoda sami’na wa atho’na. Nanti, metoda berikutnya yang namanya Iqra’ alias belajar dengan menggunakan logika diperlukan untuk mentransformasikan ilmu itu ke dalam pola-pola pikir logis agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.

Persis seperti Sunan Kalijaga yang diminta menjaga tongkatnya Sunan Bonang di pinggir sebuah sungai selama 40 hari 40 malam. Tidak bertanya untuk apa, tidak protes, dijalani saja karena iman. Persis seperti Bruce Lee yang diharuskan guru kungfunya berdiri melatih belajar kuda-kuda, tidak bergerak setiap hari selama seminggu penuh. Ia bosan dan protes mengapa tak dilatih cara menendang, memukul atau bertarung. Gurunya diam saja dan hanya memberi isyarat untuk melanjutkan latihan kuda-kudanya. Logika Bruce Lee menolak tapi keyakinannya membuatnya menuruti gurunya.

Lalu Sunan Kalijaga menjadi anggota Wali Sanga yang paling terkenal. Lalu Bruce Lee jadi bintang martial art Hollywood yang terkenal dan pendiri Jeet Kun Do yang kuda-kudanya terkuat, karena kuda-kuda adalah pondasi mendasar dari semua ilmu beladiri.

Kembali ke pertanyaan awal saya.

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?

Sebuah cerita yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansur tentang seorang kakek yang nekad menjual rumah satu-satunya karena iman kepada Allah walaupun semua saudara dan anak-anaknya melarangnya, Allah ganti dengan rumah yang lebih bagus dan lebih besar sepulangnya dari ibadah haji.


Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Saat uang terakhirmu masuk ke kotak amal, resikonya adalah engkau akan pulang jalan kaki dan kemungkinan sakit kepalanya makin parah. Tapi yang pernah saya alami itu tak terjadi, seorang teman tiba-tiba muncul di serambi mesjid menawari untuk mengantar ke rumah setelah sebelumnya menraktir makan siang. Sakit kepala yang tadi bikin senut-senut malah kabur tanpa permisi setelahnya.

Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?

Ini juga cerita nyata dari ustadz Yusuf Mansur, sang Ibu yang ikhlas menyedekahkan uang yang sangat diperlukannya itu, tiga bulan kemudian Allah ganti dengan kecukupan biaya sekolah anaknya untuk bulan-bulan berikutnya karena sang anak terpilih untuk menggantikan seorang peserta lomba cerdas cermat yang tiba-tiba sakit dan timnya menjadi juara. Allahu Akbar!


Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?

Dengan senyum yang menghias wajah sang pengemis setelah perutnya kenyang oleh nasi goreng jatahmu, maka terkuaklah pintu langit. Allah takkan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah menolong hamba-Nya yang lain yang lebih lemah. Kejadiannya bisa saja tiba-tiba hpmu menerima sms yang berisi informasi transfer sejumlah uang tertentu yang bisa digunakan makan malam sepuluh hari. Atau di puncak laparmu, seseorang mengetuk pintu dan mengantarkan paket lengkap makan malam tak cuma nasi goreng tapi juga ayam goreng dan buah-buahan pencuci mulutnya sekaligus. Atau tak ada pengganti makan untuk malam itu, tapi Allah dengan kuasa-Nya menghilangkan laparmu sampai besok pagi untuk menghidangkan sarapan paling lezat yang pernah kau rasakan seumur hidupmu.

Saat kita telah melakukan ikhtiar yang terbaik melalui tuntunan-Nya, maka Allah akan menyelesaikan urusan-urusan kita dengan cara-Nya. Cara-cara yang mungkin takkan pernah kita bisa pahami dengan keterbatasan logika kita. Cerita tentang sedekah memang selalu begitu, Allah jualah Sang Maha Perancang Skenario yang sebaik-baiknya.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip hidup kita, memaksa orang lain untuk berbuat baik. Tidak. Apa yang dilakukan oleh FPI menunjukkan upaya seperti itu hanya akan menimbulkan kekerasan dan permusuhan.

Hak kita adalah memaksa diri kita untuk melakukan kebaikan, memaksa diri untuk berbagi saat kekurangan, memaksa diri untuk menolong orang lain saat kita justru butuh pertolongan. Nanti orang lain akan melihat keteladanan itu dan mengikutinya dengan suka rela dan suka hati.

Lha terus, kebutuhan kita siapa yang mencukupi Mas? Jawaban saya mungkin terdengar naïf, tapi saya yakin Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita. Allah saja yang paling pantas kita harapkan dan gantungkan nasib kita.

Inilah sesungguhnya strategi dakwah yang belum banyak diterapkan oleh kita semua. Karena kurangnya keyakinan dan iman atas kekuasaan dan kekayaan Allah, kita ragu-ragu. Kita maju mundur, akhirnya tak jadi berbuat.

Jika engkau bersedia bersikap kejam pada diri sendiri maka alam semesta akan memperlakukanmu dengan lebih mudah. Jika kita terlalu manja, terlalu nyaman dininabobokkan oleh comfort zone, tunggulah saat alam semesta memaksa kita dengan masalah, bencana atau kehilangan sehingga mau tidak mau kita dipaksa harus bangun, dipaksa harus lebih serius menjalani kehidupan.

Marilah kita mulai memaksakan diri melakukan kebaikan. Dengan keyakinan dan kegembiraan. Bismillah…

Oleh:M.Arief Budiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s