Pameran IDKS 2015

Pameran IDKS (Informasi Dalam Konteks Sosial)  2015 kali ini mengangkat tema”Permainan Tradisional”  diselenggarakan di Gelanggang EsKA UIN Sunan Kalijaga pada tanggal 26-27 Mei 2015. 
Pameran ini diisi oleh 10 stand peserta yang mengangkat berbagai macam permainan tradisional yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.  Dalam pameran kali ini juga terdapat acara show and tell dan talkshow yang mengangkat tema”Pelestarian Budaya Lokal”  yang diisi oleh Bapak Bambang Nursinggih.
Acara yang rutin diselenggarakan setiap tahunya ini cukup banyak dikunjungi.  Umumnya yang banyak datang yaitu anak anak TK dan juga mahasiswa.  Dalam pameran ini cukup banyak permainan tradisional yang dipamerkan,  seperti gasing,  dingklik oglak-aglik,  jamuran,  egrang,  juga permainan tradisional lainya.
Pameran IDKS ini akan diadakan kembali pada tahun depan dengan mengangkat tema yang tentunya akan berbeda dengan tahun 2015 ini.

Menengok Manuskrip Kuno di Perpustakaan dan Dokumentasi Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Perpustakaan dan Dokumentasi Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adahalah perpustakaan yang berdiri dibawah institusi Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perpustakaan ini memiliki tugas mengelola buku – buku kebahasaan dan kesastraan yang berguna sebagai referensi.

Perpustakaan ini memiliki Visi dan Misi :

Visi:

Sebagai pusat informasi kebahasaan

Dan kesastraan Indonesia dan daerah.

Misi:

  • Menyediakan layanan koleksi kebahasaan dan kesastraan yang lengkap
  • dan dapat diakses secara online;
  • Sebagai sarana peneunjang untuk kegiatan penelitian;
  • Melestarikan koleksi

Perpustakaan Balai Bahasa ini menggunakan sistem layanan tertutup,yaitu pemustaka tidak diizinkan untuk mengambil koleksi sendiri. Pemustaka cukup menulis judul koleksi yang diingnkan dan  menyerahkannya kepada pustakawan, lalu pustakawan akan mengambilkan koleksi yang dibutuhkan pemustaka namun pemustaka hanya dapat membaca koleksi di ruang baca perpustakaan sehingga pemustaka tidak harus menjadi anggota perpustakaan. Perpustakaan ini juga menyediakan layanan fotokopi, namun dengan syarat fisik koleksi masih dalam keadaan baik dan memungkinkan untuk di fotokopi dan juga layanan fotokopi ini tidak berlaku bagi koleksi manuskrip maupun koleksi langka.

Perpustakaan Balai Bahasa ini memiliki berbagai layanan, yaitu : Sirkulasi, referensi, penelusuran informasi dan fotokopi. Ditambah juga memiliki berbagai jenis koleksi yaitu:  Buku, hasil penelitian, makalah / e- makalah, tugas – tugas akhir, manuskrip / e- manuskrip, transliterasi, kamus, jurnal / e jurnal, makalah, kliping dan peta bahasa, ditambah juga dengan fasilitas internet, ruang baca dan bibmingan pembaca. Untuk koleksi dengan aksara jawa cetak  perpustakaan ini meiliki sekitar 250 judul dan untuk manuskrip ada sekitar 130 yang diantaranya merupakan tulisan tangan.

Perpustakaan Balai Bahasa bertempat dijalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta 55224 Telepon (0274) 580667/ www.balaibahasa.org Perpustakaan membuka jam layanan sesuai dengan lembaga induk, yaitu lima hari kerja (Senin – Jum’at), pukul 08.00 – 15.30.

Inspirasiku Terjun ke Organisasi

“Organisasi : Tempat Beramal Nyata Semampu Kita dan Semaksimal Mungkin” Adalah sebuah tulisan yang menginspirasi saya untuk memilih organisasi sebagai wadah untuk saya menyalurkan ide – ide dan gagasan untuk kemudaian  di laksanakan sebagai kegiatan sosial. Di organisasi saya mendapatkan teman – teman dengan  visi dam misi yang sama dalam melakukan kegiatan sosial.

Beramal melalui organisasi tidak harus mampu secara materi, namun di organisasi saya dapat beramal dengan menyumbangkan ide – ide, gagasan dan tenaga semampu saya tanpa mengesampingkan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Dengan organisasi saya dapat benar –benar merasakan yang namanya terjun langsung di lapangan dengan memawa misi untuk membantu masyarakat yang memang benar – benar membutuhkan.

Bagi saya organisasi tidak hanya tempat untuk beramal saja, tetapi dengan saya bergabung di organisasi saya mendapatkan teman dan saudara yang lebih banyak lagi, sehingga dengan bertambahnya teman dan sudara saya menjadi lebih mudah mencari relasi – relasi guna membantu melaksanakan program – program sosial di organisasi. Tidak berhenti sampai disitu, dengan bertambahnya teman dan saudara saya lebih mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana seharusnya berorganisasi.  Sehingga bergabungnya saya di organisasi tidak mengganggu kewajiban – kewajiban saya di luar organisasi.

Semampu kita dan semaksimal mungkin, kenapa ??  Karena di organisasi sosial saya tidak sepenuhnya terikat, sehingga saya dapat melakukan kewajiban saya tetapi saya juga dapat melakukan aksi ketika kembali ke organisasi. Di organisasi akan banyak pikiran – pikiran yang saling melengkapi dan menyempurnakan sebuah program, sehingga dalam program – program yang dilaksanakan dapat mendekati sempurna, karena gabungan ide – ide dan gagasan dari beberapa anggota yang lain yang memiliki ide untuk kemudian digabungkan menjadi sebuah program yang matang dan siap untuk di eksekusi.

Dari tulisan tersebut membuat saya lebih bisa belajar di organisasi, belajar untuk kerja yang sesungguhnya. Dan dari organisasi saya dapat menabah wawasan karena banyaknya anggota dari berbagai latar belakang. Tidak hanya itu, organisasi juga dapat melatih leadership seseorang serta membuat orang kuat dalam menghadapi tekanan  serta belajar mengatur dan menghargai waktu.

Itulah sedikit cerita mengenai tulisan yang menurut saya dapat meninspirasi untuk terjun dan bergabung ke dalam beberapa organisasi. Alhamdulillah sejak beberapa tahun lalu sayamengenal tulisan tersebut hingga saat ini saya masih konsisten dalam beberpa organisasi. Sekian cerita dari saya mengenai Inspirasi organisasi.

R.Maharesi

Perhimpunan Masyarakat Pinggiran Sungai DIY : Selamatkan Pinggiran Sungai Untuk Kesejateraan Masyarakat

PMPS DIY (Logo PMPSPERHIMPUNAN MASYARAKAT PINGGIRAN SUNGAI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA) adalah organisasi sosial kemasyarakatan, terlahir dari masyarakat yang bertempat tinggal dipinggiran sungai di Yogyakarta yang sebagian besar tingkat kehidupan ekonominya menengah kebawah. Yang mana kondisi tersebut akan menjadi sasaran penguasa untuk di pinggirkan atau bahkan digusur dengan atas nama Penataan dan Kesejahteraan masyarakat.

Berawal disuatu kampung pinggiran sungai Code ditengah kota Jogja (kampung Juminahan) yang nyaris menjadi korban penggusuran, namun karena dengan semangat dan satu perjuangan, masyarakat Juminahan berhimpun dan bersatu dengan wilayah pinggiran sepanjang sungai Code dan sungai sungai yang lain untuk memperjuangkan haknya bahwa mereka layak untuk tinggal dan bersatu dengan alam sungai, bahwa mereka layak sejahtera yang sebenar benarnya sejahtera.

Untuk itu PMPS DIY selalu berupaya berjuang yang tentunya didukung oleh masyarakat, lembaga atau instansi yang peduli dengan masyarakat pinggiran sungai khususnya dan kaum marginal pada umumnya. Dalam perjuangannya PMPS DIY tidak ada bantuan dana dari pihak pemerintah sehingga apa yang dilaksanakan adalah murni dari masyarakat.

Dari semenjak berdirinya th 2009, banyak kegiatan yang telah dilaksanakan antara   lain :

Dibidang pembangunan telah berjuang agar dibangun atau diperbaiki talud sungai dibeberapa tempat agar masyarakat aman.

Dibidang kesehatan PMPS DIY bekerja sama dengan lembaga YPMJ (Yayasan Persaudaraan Masyarakat Jogja) melaksanakan bakti sosial “pengobatan gratis” diwilayah pinggiran sungai secara berkala dan bergiliran tempatnya. Juga memperjuangkan masyarakat yang tidak mampu membayar biaya rumah sakit sehingga dapat kesempatan untuk bisa dirawat dirumah sakit.

Di bidang pendidikan, mengupayakan dan memperjuangkan agar anak anak tetap bisa sekolah walaupun mereka tidak mampu dalam hal biaya. Juga melaksanakan kegiatan yang mendidik anak anak muda agar mencintai tanah air serta bela bangsa dan negara.

Dibidang keagamaan PMPS DIY melakukan upaya upaya untuk ikut menjaga agar masyarakat aman dan khusyuk melaksanakan “perayaan Keagamaan”.

                                                Namun seiring berjalanya waktu kini PMPS DIY tidak hanya bergerak dalam bidang – bidang diatas, tetapi telah dibentuk juga bidang SAR dan Penaggulangan Bencana yang siap bergerak sewaktu – waktu jika terjadi bencana di wilayah DIY dan sekitarnya.

                        Kini PMPS DIY tengah mengembangkan sayapnya untuk membuka Korwil ( Koordinator Wilayah) setingkat Kabupaten dan Kota untuk menambah dan memperkuat struktural PMPS DIY. Dalam pengembangan sayapnya, PMPS DIYmenerima semua golongan masyarakat yang tidak harus dari pinggiran sungai saja, tetapi PMPS DIY menerima orang – orang yang memiliki jiwa sosial tinggi, juga komitmen yang tinggi dalam menolong sesama tanpa memikirkan materi/ gaji.

 Sekian tulisan saya mengenai organisasi yang saya ikuti, semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi untuk saling menolong sesama.

                        “ Mari Selamatkan Pinggiran Sungai Untuk Kesejahteraan Masyarakat”



Dari Hobi Untuk Kemanusiaan – Hingga Pasukan Jingga

Diklat BASARNAS MFR

Berawal dari hobi travelling dan berpetualang melihat keindahan alam ditambah dengan beberapa hobi extreme, beberapa tahun yang lalu saya memutuskan untuk terjun dalam dunia relawan maupun SAR. Tekad yang bulat dan niat menolong yang kuat ditambah dengan dukungan dari orang – orang terdekat  membuat saya memutuskan untuk terjun dalam kegiatan- kegiatan kemanusiaan. Agak aneh sih, tetapi memang itulah kenyataannya. Suatu kegiatan yang tanpa adanya rasa kemanusiaan saya kira tak akan bisa, bahkan jika ada yang mau membayar sekalipun.  Saat itu saya berfikir bahwa saya memiliki hobi yang boros dalam biaya dan hanya dapat membuat senang saya sendiri, ditambah lagi dengan hobi saya yang dekat dengan dunia SAR, seperti mendaki gunung,bermain di ketinggian, motorross, dll. Dari situ saya berfikir bahwa bagaimana caranya saya dapat menyalurkan hobi saya tetapi juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Diawali dengan operasi di gunung merapi membuat semangat menolong ini selalu membara, hingga beberapa operasi sampai saat ini.

Berangkat dari komunitas pinggiran sungai bernama PMPS DIY(Perhimpunan Masyarakat Pinggiran Sungai DIY). Dari anggota biasa hingga saya diberi amanah untuk menjadi pengurus Bid. SAR dan PB, hingga dikirim untuk mengikuti diklat guna menambah ilmu dan ketrampilan anggota. Di PMPS DIY saya tidak hanya mengurusi orang hilang, tanah longsor, pohon tumbang, dll. Namun saya dan anggota lainya juga bergerak dalam bidang kesehatan, sosial masyarakat,pendidikan,agama, dll. Hal itu membuat saya tidak hanya berkutat dengen dunia SAR saja, tetapi dapat lebih banyak lagi.

Tidak berhenti di situ saja, saya juga mendapatkan dukungan dari ketua umum PMPS DIY dan teman – teman lainya, untuk bergabung bersama di Forum Relawan Jogja (FOR) yang dibentuk oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah kota Yogyakarta, walaupun tidak begitu lama. Di FOR Jogja saya dan teman saya mewakili PMPS DIY diberi amanah sebagai Humas, sekaligus menjadi TRC PB (Team Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana) yang diisi oleh teman – teman lintas organisasi/ komunitas. Di TRC kami bertugas untuk melakukan assasment ketika terjadi sebuah bencana, kami terbagi atas beberapa regu yang setiap harinya melakukan piket yang terbagi dalam tiga shift. Beberapa bulan berlalu, dan saya harus kembali lagi ke PMPS DIY karena lain dan suatu hal,sehingga kepengurusan FOR dan TRC dipegang oleh teman saya sesama relawan.

Beberapa waktu setelah berhentinya saya dari TRC, saya langsung menerima surat untuk melaksanakan diklat di BASARNAS kantor Yogyakarta, dalam surat tersebut kami (PMPS DIY) mendapatkan kuota  2 orang untuk mengikuti diklat yang dilaksanakan selama 4 hari 3 malam. Pada saat itu saya yang diberi kuasa atas surat tersebut bertanggungjawab untuk mencari anggota yang siap untuk mengikuti diklat tersebut. H -2 dari pelaksanaan diklat belum ada juga yang mau mengkuti diklat tersebut, hingga pada akhirnya saya mendapatkan amanah untuk mengikuti diklat tersebut bersama komandan saya slama 4 hari 3 malam tanpa pulang dengan cluster yang berbeda. Setelah selesai diklat, saya dan komandan saya resmi diakui negara sebagai anggota potensi SAR Kantor BASARNAS Yogyakarta. Dan hal tersebut membuat kami bangga atas seragam orange yang menjadi identitas kami jika berasda di lapangan nanti. Namun begitu saya pribadi tidak lupa dengan rumah asal saya, yaitu PMPS DIY. Karena tanpa PMPS DIY dan dukungan oleh para komandan, khususnya Bpk. Adjad Soeharsono dan Kasmiran, senior – senior yang ada di sekretariatan mungkin saya tidak bisa sampai di orange team/ pasukan jingga saat ini.

Itulah sedikit cerita mengenai perubahan hobi saya, mungkin tidak bisa saya ceritakan semuanya karena kronologi yang sebenarnya puaaaaaaaaaaanjang sekali. Sekian J 1

R.Maharesi

Ini Lho… Jurusan Ilmu Perpustakaan

Mengapa ilmu perpustakaan? adalah sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan orang – orang yang asing dengan dunia perpustakaan kepada saya maupun mahasiswa ilmu perpustakaan lainya. Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan yang selalu ada di setiap perbincangan dengan orang yang baru kenal khususnya orang – orang yang kurang mengenal perpustakaan maupun ilmu perpustakaan. Namun demikian saya selalu sadar bahwa jurusan ilmu perpustakaan terkadang masih menjadi sesuatu yang asing bagi sebagian orang ditambah lagi dengan banyaknya orang yang mengaggap perpustakaan adalah sebuah gedung atau ruangan yang berisi buku – buku, seram dan berada di sudut gedung sehingga timbul anggapan bahwa perpustakaan itu tidak begitu penting. Hal itu didukung dengan adanya “statement” yang menganggap menjadi pustakawan atau belajar di ilmu perpustakaan hanyalah untuk menata buku – buku yang ada di perpustakaan. Bahkan sempat ada seseorang yang berkomentar “menata buku aja kok pake sekolah”. Hal diatas terkadang membuat saya menjelaskan kepada orang yang masih asing dengan jurusan ini mengenai apa itu perpustakaan, pustakawan dan ilmu perpustakaan itu sendiri,sehingga orang – orang atau masyarakat tidak lagi asing dengan yang namanya jurusan ilmu perpustakaan,pustakawan maupun perpustakaan. Jujur saja bahwa sebenarnya ilmu perpustakaan bukan pilihan pertama saya, pilihan pertama saya pada saat itu adalah psikologi karena pada saat itu saya sering bekerja bersama teman –teman relawan ketika menangani anak – anak yang trauma karena bencana alam. Pada saat itu saya disarankan oleh Budhe saya yang dulu pernah kuliah di ilmu perpustakaan dan menjabat kepala perpustakaan universitas, juga dosen itu untuk masuk  jurusan ilmu perpustakaan. Ditambah dengan dukungan kuat dari kedua orangtua saya juga tentunya, sehingga dapat memantapkan  hati pada jurusan ilmu perpustakaan. Abstrak, asing dan tidak ada gambaran sama sekali pada saat pertama kali masuk kuliah ditambah istilah – istilah yang bagi saya asing juga pada saat itu, namun pada saat itu sebenarnya saya memiliki rasa ingin tahu “kepo” tentang ilmu perpustakaan  mugkin karena melihat tingkah Budhe sayaa di dunia perpustakaan. Hehe…  Tetapi saat ini saya merasakan bahwa di dalam jurusan ilmu perpustakaan banyak pelajaran – pelajaran maupun  ilmu yang bisa saya terapkan langsung dalam dunia organisasi maupun maasyarakat, terlepas dari ilmu – ilmu yang berkaitan dengan buku – buku. Sehingga saya berfikir bahwa nantinya mahasiswa setelah lulus kuliah tidak lagi kaget dalam segala pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan. Selain itu banyak mata kuliah berbasis IT yang menunjang kegiatan di perpustakaan maupun diluar perpustakaan, sehingga kecil kemungkinan gaptek pada mahasiswa ilmu perpustakaan. Keuntungan lain mengambil jurusan ilmu perpustakaan bagi saya  yaitu akan banyaknya pengetahuan – pengetahuan baru yang akan di dapat, karena nantinya akan banyak buku – buku yang akan diolah dan  tidak hanya dari satu disiplin ilmu tertentu saja,melainkan semua buku – buku dari berbagai subjek yang terkadang membuat kita  merasa ingin tahu “kepo” akan isi buku tersebut, sehingga kita akan membacanya. Dalam hal pelayanan di ilmu perpustakaan sangat dituntut proffesional, sehingga keuntungan lain  mengambil jurusan ilmu perpustakaan yaitu kita dapat mengerti cara melayani pengguna perpustakaan dan cara itu dapat diterapkan juga di luar perpustakaan. Itulah secuil cerita tentang jurusan ilmu perpustakaan serta alasan saya mengambil jurusan ilmu perpustakaan dan saya tidak pernah menyesal mengambil jurusan tersebut. Dalam cerita diatas terselip sebuah harapan bahwa kedepan nanti ilmu perpustakaan tidak lagi menjadi sebuah hal yang asing, dan perpustakaan dapat menjadi pusat informasi, pendidikan dan juga penelitian. Sekian dulu tulisan ini yaa…

SEARCH AND RESCUE II

I.      PENGETAHUAN DASAR SAR

1.   Pengantar SAR dan Filosofi SAR

2.   Organisasi SAR

3.   Organisasi Operasi SAR

 

II.     MFR (MEDICAL FIRST RESPONDER)

1.   Pengantar MFR dan Referensi Anatomi

2.   Penilaian Korban

3.   Bantuan Hidup Dasar dan Resusitasi Jantung Paru

4.   Perdarahan dan Syok

5.   Cedera Jaringan Lunak dan Organ Dalam

6.   Cedera Alat Gerak

7.   Cedera Kepala, Tulang Belakang, dan Dada

8.   Luka Bakar dan Kedaruratan Suhu/Lingkungan

9.   Pemindahan Korban

 

III.   EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR)

1.   Teknik Pencarian

2.   Membaca Peta dan Navigasi Darat

3.   Survival

4.   Perlengkapan, Pakaian, Packing dan Makanan  (PPPM)

 

IV.    KOMUNIKASI SAR

1.   Sistem Komunikasi SAR

2.   Pengoperasian Radio

 

V.      TEKNIK EVAKUASI DI DARAT

1.   Safety Kerja Di Lingkungan Vertikal dan Abseilling

2.   Penggunaan Peralatan dan Perawatannya

3.   Pengetahuan Tali, Perawatan, dan Pembuatan Simpul

4.   Anchoring dan Belaying

5.   Ascend dan Descend

6.   One Person Rescue Technique

7.   High Angle Lowering (Inside & Overhead Anchor)

8.   Lifting/Hauling System (Mechanical Advantage System)

9.   Highline & Slope Evacuation

10.  Teknik Dasar Pemanjatan

 

VI.    PROSEDUR OPERASI HELLY

1.   Karakteristik Helly dan Safety Rule

2.   Helipad, Marshailing dan Teknik Rappeling

 

VII.  PERTOLONGAN DI AIR

1.   Persyaratan Personil Penolong Di Air

2.   Metode Pertolongan Di Air

3.   PFD (Personal Floating Device) dan Self Rescue

4.   Akses Ke Korban dan Operasional Perahu Karet

5.   Pengenalan Motor Tempel

6.   Defends dan Release

7.   Teknik Pertolongan/Penyelamatan

 

VIII. SARANA DAN PRASARANA

1.   Rescue Truck dan Kendaraan Operasional Lainnya

2.   Peralatan SAR Darat

3.   Peralatan SAR Laut

4.   Radio Komunikasi SAR

ORGANISASI DAN MANAJEMEN SAR

Diterbitkan Mei 12, 2008 Home 1 Comment

Tag:Citaka, Materi

ORGANISASI SAR

Pengertian

SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan percarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun harta benda yang berharga lainnya.

Hakekat SAR

SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada, baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.

Perkembangan Organisasi SAR

Semenjak terbentuknya pada Tgl. 28 februari 1972 dan dalam perkembangannya, organisasi SAR telah mengalami beberapa kali perubahan yang di lakukan oleh pemerintah untuk lebih mengoptimalkan organisasi SAR. Adapun perubahan – perubahan yang pernah dilakukan adalah;

Keppres No. 11 Thn. 1972. di sebutkan bahwa BASARI ( Badan SAR Indonesia) mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari Pimpinan, Pusat Kordinasi SAR Nasional (PUSARNAS), Pusat Kordinasi Rescue, Sub–Sub Pusat Kordinasi Rescue serta Unsur – Unsur SAR.

Keppres No. 44 Thn. 1974. Di jelaskan antara lain bahwa PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) berada di bawah Departemen Perhubungan.

Keppres No. 28 Thn. 1979 . di jelaskan bahwa BASARI termasuk anggota BAKORNAS PBA (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam).

Keppres No. 47 Thn 1979. PUSARNAS diganti menjadi BASARNAS (Badan SAR Nasional).

Perubahan PUSARNAS menjadi BASARNAS di sertai pula dengan perubahan eselon dari eselon II menjadi eselon I atau setingkat Direktorat Jenderal. Dan untuk kelancaran tugas – tugas di lapangan, Menteri perhubungan telah mengeluarkan instruksi bahwa Kepala BASARNAS ditunjuk sebagai kuasa ketua BASARI untuk tugas – tugas di lapangan.

BASARNAS

BASARNAS mempunyai tugas pokok untuk membina dan mengkoordinasikan semua usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan Internasional terhadap manusia ataupun benda berharga lainnya.

Kantor Koordinasi rescue (KKR)

Mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsur dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggung jawabnya.

TINGKAT KEADAAN DARURAT

Dalam SAR dikenal adanya 3 tingkat keadaan darurat:

1.    Inserfa

2.    Destresfa

3.    Alertfa

KOMPONEN SAR

Sebelum di aktifkannya suatu kegiatan operasi SAR, tentunya harus di dahului dengan adanya berita suatu musibah atau sesuatu yang menghawatirkan atau di khawatirkan akan terjadi musibah.

Penyelenggaraan operasi SAR akan berlangsung dengan baik bila di dukung oleh komponen – komponen SAR yang meliputi ; organisasi, fasilitas, komunikasi, medik dan dokumentasi.

1.    organisasi

Organisasi dalam misi SAR akan dibentuk dalam jangka waktu tertentu demi kelancaran koordinasi dan pengendalian unsur-unsur SAR yang ada hingga kegiatan menjadi efektif dengan hasil yang optimal. Organisasi ini akan bubar dengan sendirinya apabila operasi SAR telah dinyatakan selesai. Untuk itu perlu diketahui tugas dan tanggung jawab serta hubungan dari setiap unsur SAR.

1.

a.    SC (SAR Cordinator)

Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.

1.

a.    SMC (SAR Mission Coordinator)

Adalah pejabat yang di tunjuk oleh kepala BASARNAS/KKR karena memiliki kualifikasi yang di tentukan atau telah mengikuti pendidikan sebagai seorang SMC yang di akui.

SMC akan mengkoordinasikan dan mengendalikan operasi SAR dari awal sampai akhir.

Tugas dan tanggung jawab SMC:

1. Mendapatkan informasi tentang musibah.

2. Mendapatkan informasi tentang cuaca.

3. Menentukan/membagi areal pencarian dan cara serta fasilitas yang akan di gunakan.

4. Mengadakan debriefing terhadap unsur-unsur SAR yang akan dilibatkan.

5. Mengevaluasi setiap perkembangan (berdasarkan data-data yang di terima).

6. Melaporkan kegiatan secara teratur ke BASARNAS/KKR.

7. Mengatur dropping perbekalan.

8. Mengadakan koordinasi dengan KKR tetangga bila areal pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.

9. Menyarankan penghentian pencarian bila di pandang perlu.

10. Membebaskan unsur SAR atau menghentikan kegiatan bila bantuan mereka tidak di butuhkan.

11. Membuat laporan akhir perihal hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.

Pada umumnya pengendalian SAR di lakukan di KKR namun bila tidak memungkinkan, SMC dapat berpindah sementara ke daerah yang lebih dekat dengan lokasi operasi dan mengendalikan dari daerah tersebut.

c. OSC (On Scene Commander)

OSC adalah pejabat yang di tunjuk oleh SMC untuk melaksanakan sebagian tugas SMC di lapangan. Persyaratan pejabat OSC sama dengan persyaratan seorang pejabat SMC. OSC melaksanakan tugas sebatas yang di delegasikan kepadanya. Hal ini biasanya di lakukan bila lokasi pencarian sulit untuk di kendalikan secara langsung oleh SMC atau SMC merasa perlu adanya OSC untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya.

d. SRU (Search And Rescue Unit)

SRU adalah unsur SAR yang di operesikan dalam kegiatan SAR dan mengikuti pentahapan penyelenggfaraan operasi. SRU dapat berasal dari berbagai organisasi/instansi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan operasi SAR.

STRUKTUR ORGANISASI MISI SAR

SC >>> SMC >>> SRU atau SC >>> SMC >>> OSC >>> SRU

2. Fasilitas

Yang termasuk dalam fasilitas SAR adalah semua pendukung penyelenggaraan dalam kegiatan operasi SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah, swasta, perusahaan, kelompok/organisasi masyarakat maupun perorangan. Jenisnya dapat berupa personil terlatih, kendaraan, alat komunikasi dll.

3. Komunikasi

Komukasi akan berperan dalam penyampaian informasi dari satu unit ke unit lainnya secara cepat dan akan lebih memudahkan dalam pengendalian operasi terlebih dalam keadaan emergency.

4. Pelayanan Darurat Medik

Dalam pelaksanaan operasi SAR sangat diperlukan adanya pelayanan darurat medik untuk memberikan pertolongan pertama bila ada korban yang membutuhkan sebelum di tangani oleh pihak yang lebih berkompeten. Pelayanan ini juga di butuhkan pada saat melakukan evakuasi dan mobilisasi korban.

5. Dokumentasi

Dokumentasi berguna untuk memberikan data dan keterangan serta analisa dari informasi misi SAR yang diterima termasuk mulai dari tahap kekhawatiran sampoai tahap konklusi misi, khususnya catatan baik secara tulisan atau visual. Ini merupakan bahan untuk evaluasi dan pedoman untuk kegiatan selanjutnya

SAR pada hakekatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai falsafah Pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana maupun musibah lainnya.

 

Dari batasan  pengertian dan hakekat SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama adalah pelaksanaan operasi. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi hanya akan bisa berjalan dengan efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang mantap. Pembinaan SAR yang dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan/pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian terhadap unsur/sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang dipersyaratkan.

 

ARTI PENTING EKSISTENSI SAR

Pada dasarnya kegiatan SAR ini dilaksanakan oleh Negara-negara diseluruh dunia, oleh sebab itu pengaturan mengenai SAR telah disepakati juga dalam konvensi Internasional yang tentunya akan mengikat bagi Negara-negara yang telah meratifikasinya. Konvensi Internasional dimaksud adalah :

1.    Adanya ketentuan dari ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) yaitu Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dalam Konvensi Chicago, 1944 pada Pasal VI tentang Internasional Standard and Recommended Practices Annex 12 “Search and Rescue”, antara lain berisi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan SAR yang meliputi organisasi, tugas, dan kerja sama dengan Negara-negara tetangga.

2.    Adanya ketentuan dari IMO (International Maritime Organization) atau Organisasi Pelayaran Inernasional, sesuai dengan Konvensi SOLA (Safety of Live at Sea) 1974 yang menentukan bahwa Negara memiliki kewajiban untuk membentuk sistim pengawasan/penjagaan pantai dan melakukan penyelamatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perairannya.

3.    Dengan adanya ketentuan internasional yang bersifat mengikat tersebut, Negara wajib memiliki organisasi SAR yang mampu untuk menangani musibah penerbangan dan pelayaran di wilayah tanggung jawabnya sesuai dengan petunjuk teknis yang tertuang dalam IAMSAR Manual.

4.    Apabila Negara tidak bisa memberikan pelayanan di bidang SAR, maka Negara yang bersangkutan dikenai status “Black Area” yang berpengaruh negatif terhadap aspek perekonomian, sosial politik, HANKAM, dan aspek-aspek lainnya, bahkan bisa dicabut dari keanggotaan ICAO & IMO.

 

FILOSOFI SAR

1.Locate.

Artinya memberikan gambaran yang kongkrit posisi/lokasi subyek yang mengalami musibah itu berada. Lokasi biasanya ditunjukkan dengan garis lintang dan bujur pada peta.

2.Acces.

Artinya sumber-sumber dari mana saja dan dengan cara apa bantuan pertolongan ini bisa sampai menuju lokasi tempat terjadinya musibah.

3.Stabilize.

Artinya penanganan/perawatan korban dengan berbagai macam kasus di lokasi kejadian itu dilakukan oleh unit-unit penolong (Rescue Unit) sebelum bantuan medis tiba untuk memberikan perawatan lebih lanjut.

4.Transport/Evakuasi.

Artinya proses pemindahan korban dari lokasi ke tempat yang lebih aman untuk diberikan pertolongan pertama (evakuasi) dan transportasi dari tempat mendapat pertolongan pertama ke tempat fasilitas medis terdekat.

 

SIFAT – SIFAT OPERASI SAR.

1.Kemanusiaan.

2.Netral.

3.Cepat, Cermat, Cekatan.

4.Tepat dan Aman.

5.Koordinatif.

6.Borderless.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEMAMPUAN DASAR  SAR

Sesuai dengan arti kata SAR yang berarti Search (Pencarian) dan Rescue (Pertolongan/Penyelamatan),maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis SAR serta beberapa disiplin ilmu sebagai penunjang/pendukung. Ilmu pengetahuan dan keterampilan serta disiplin ilmu pendukung yang dimaksud adalah :

1.Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan lain-lain.

2.Unsur Pencarian (Search).

a.Teknik Pencarian di Darat.

b.Teknik Pencarian di Laut.

c.Teknik Pencarian dari Udara.

3.Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue) :

a.Evakuasi.

b.Medical First Response.

4.Unsur Pendukung/Penunjang :

a.Navigasi.

b.Mountaineering.

c.Survival.

d.Komunikasi Lapangan.

e.Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.

f.Helly Rescue.

 

KOMPETENSI DASAR TENAGA SAR.

1.Fisik yang prima dan sikap mental yang tangguh.

2.Memiliki pengetahuan yang cukup.

3.Memiliki keterampilan yang dipersyaratkan.

4.Mampu menjalin koordinasi dengan baik.

PENYELENGGARAAN OPERASI SAR

Dalam penyelenggaraan operasi SAR, akan dihadapkan dengan system SAR yakni adanya 3 (tiga) Fase keadaan darurat (Emergency Phase), 5 (lima) Tahap Operasi SAR (SAR Stage) dan 5 (lima) Komponen yang menunjang operasi SAR (SAR Component}.

 

1.Phase keadan darurat.

•Tingkat meragukan (Uncertainty phase – INCERFA), bila pesawat atau kapal terlambat melapor tiba di tempat tujuan melebihi batas waktunya.

•Tingkat mengkhawatirkan (Alert phase – ALERFA), merupakan kelanjutan dari phase INCERFA atau diketahui pesawat atau kapal dalam keadaan mengkhawatirkan atau adanya ancaman terhadap keselamatannya.

•Tingkat memerlukan bantuan (Distress phase – DISTRESFA) diketahui penumpang pesawat atau kapal dalam keadaan bahaya dan memerlukan pertolongan.

2.Tahap Operasi SAR.

•Tahap menyadari (Awareness Stage), yaitu saat diketahui/disadari terjadinya keadaan darurat.

•Tahap tindak awal (Initial Action Stage), saat dilakukan tindakan awal sebagai respon adanya musibah.

•Tahap perencanaan operasi (Planning stage), saat dilakukan rencana operasi yang efektif untuk melaksanakan operasi SAR.

•Tahap operasi (Operation stage), saat dilakukannya operasi pencarian dan pertolongan.

•Tahap pengakhiran operasi (Mission conclusion stage), saat dinyatakan operasi SAR selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke satuan masing-masing.

 

3.Komponen Penunjang SAR (SAR Component).

 

Pelaksanaan kegiatan SAR sesuai dengan pentahapan tersebut akan berhasil apabila didukung oleh adanya 5 komponen penunjang yang terdiri atas :

1.Organisasi.

Dalam lingkup operasi SAR dikenal organisasi operasi yang berlaku secara internasional. Organisasi ini merupakan organisasi tugas operasi yang terdiri dari :

 

•SAR Coordinator (SC).

SC adalah pejabat yang mempunyai tanggung jawab untuk menjamin dapat berlangsungnya suatu operasi SAR yang efisien dengan menggunakan seluruh potensi SAR yang ada. SC dapat dijabat oleh Kepala Basarnas, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Bupati Kepala Daerah Tingkat II.

•SAR Mission Coordinator (SMC).

SMC adalah seseorang atau pejabat yang ditunjuk oleh SC untuk melaksanakan koordinasi dan pengendalian operasi SAR. Seorang SMC harus memiliki kualifikasi / kemampuan komando dan pengendalian serta memahami proses perencanaan operasi SAR, teknik Search and Rescue. SMC biasanya menggunakan Sumber Daya Manusia di daerah kejadian.

•On Scene Coordinator (OSC).

OSC yang ditunjuk bisa lebih dari 1 orang, tergantung dari jumlah dan jenis unsur yang dikerahkan, terutama pada operasi SAR gabungan yang melibatkan darat, laut dan udara serta apabila lokasi operasi teletak di wilayah perbatasan 2 (dua) Negara. OSC ditunjuk oleh SMC dan biasanya diambil dari komandan unsur yang paling senior diantara SRU.

•SAR Unit (SRU).

SRU adalah unit-unit SAR yang bertugas melaksanakan kegiatan operasi SAR dilapangan. SRU dapat berupa kapal laut dan crewnya, pesawat dengan crewnya atau tim darat. Pemilihan SRU harus berdasarkan pada pertimbangan kemampuan unsure dan kualifikasi awaknya. Keberadaan potensi SAR yang ada di masyarakat yang memiliki kualifikasi untuk menunjang operasi SAR biasanya ditempatkan pada SRU ini.

2.Fasilitas.

Fasilitas SAR dapat merupakan fasilitas milik pemerintah, swasta maupun perorangan. Pemilihan fasilitas berdasarkan atas kemampuan operasional dan latihan serta pengalaman awaknya. Hingga saat ini Basarnas instansi yang menangani SAR di Indonesia masih banyak menggunakan fasilitas yang dimiliki TNI AU, TNI AL untuk mendukung kegiatan operasi SAR.

3.Komunikasi.

Komunikasi merupakan tulang punggung dari seluruh sistim SAR. Fungsi komunikasi meliputi pengindraan / diteksi dini, koordinasi, komando dan pengandalian administrasi / logistic. Dalam pelaksanaan fungsi peringatan dini ini Basarnas, instansi yang menangani SAR di Indonesia menggunakan satelit Cospas / Sarsat, khusus untuk menangani pesawat terbang yang membawa ELT (Emergency Locater Terminal) dan kapal-kapal laut yang membawa EPIRB (Emergency Positioning Indicator Radio Beacon).  Lokasi stasiun Cospas / Sarsat disebut LUT (Lokal User Terminal) yang berada di Jakarta dan Ambon, menggunakan saluran teristrial dan radio yang berhubungan dengan ATC  dan SROP. Untuk fungsi koordinasi terutama informasi data Basarnas  menggunakan SAROIMS (SAR Operation Information Managemet System) dengan memanfaatkan teknologi V-Sat, yang dipasang di kantor-kantor SAR dan dihubungkan dengan kantor pusat. Fungsi kodal sebagian besar menggunakan peralatan komunikasi yang ada di unsur-unsur TNI. Untuk fungsi Administrasi Logistik digunakan saluran radio dan telepon dengan memanfaatkan faxsimili.

 

4.Perawatan Darurat (Emergency Care).

Perawatan darurat terlaksana dengan persyaratan kemampuan sebagai berikut :

•Personil SAR terlatih dalam penanganan darurat (Medical First Responder).

•Tersedia transportasi korban.

•Tersedia fasilitas medis untuk perawatan korban.

5.Dokumentasi.

Dokumentasi meliputi pencatatan informasi dan data dalam format tertentu sehingga memudahkan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan. Data-data yang tersusun dengan baik akan memudahkan pengambilan keputusan.

 

PELAKSANAAN OPERASI SAR

1.Operasi SAR diaktifkan segera setelah diketahui dengan pasti adanya

musibah atau terjadi keadaan darurat.

2.Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah dijakinkan keadaan darurat tidak terjadi lagi (Fase Alert) atau sudah dapat diatasi, atau bila hasil analisa / evaluasi berdasarkan Time Frame For Survival (TFFS) survivor/korban bahwa harapan untuk selamat setelah hari ke 7 (ketujuh) operasi SAR dilaksanakan sudah tidak ada lagi.

3.Opersai SAR merupakan gabungan kegiatan dari Operasi Search dan

Operasi Rescue yang pada pelaksanaannya dapat berupa :

a.Operasi Pencarian tanpa Operasi Pertolongan.

b.Operasi Pertolongan/Penyelamatan tanpa operasi pencarian.

c.Operasi Pencarian yang dilanjutkan Operasi Pertolongan.

Pelik Samarinda